Wakapolresta Pekanbaru “Internet Of Things” Sarasehan Pemberdayaan Oleh Kementerian

Beritapolisi.com,-Wakapolresta Pekanbaru AKBP Edy Sumardi P SIK mewakili Kapolresta hadiri kegiatan sarasehan pemberdayaan wilayah pertahanan bagi menwa di universitas oleh perwakilan kementrian pertahanan di Gedung Batalion Arhanudes, Kamis pagi (25/10/2018) pukul 08.30 WIB

Sarasehan yang diselenggarakan terkait dengan pertahanan negara khususnya di lingkungan pendidikan, dan nilai-nilai bela negara yang ingin disampaikan kepada generasi muda yaitu cinta tanah air dan rela berkorban.

Wakapolresta Pekanbaru kepada awak media menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan sarasehan ini diikuti oleh mahasiswa. Karena mahasiswa akan menjadi bekal bagi generasi muda di masa yang akan datang.

“Seorang menwa dituntut untuk memiliki sejumlah keterampilan dan kompetensi secara konsisten, supaya siap menghadapi pola kerja baru yang tercipta dalam revolusi internet (internet of things) juga dapat membantu menangkal penyebaran ancaman non militer seperti penyebaran berita bohong (hoax) dengan selektif dalam menyebarkan informasi,”tutup Edy (ARI/Ys)

from BERITA POLISI https://ift.tt/2JehkgV
via Pakar Seo

Kapolres Gresik Santuni Anak Yatim Piatu “Indahnya Berbagi Di Bulan Muharram”

Beritapolisi.com,-Momentum 10 Muharram atau Asyura diambil karena ada anjuran pada hari tersebut untuk menyantuni anak-anak yatim serta ada balasan yang besar dari Allah SWT berupa diangkatnya derajat orang yang menyantuni anak yatim pada hari tersebut. Seperti halnya yang dilakukan oleh Kepolisian Resort Gresik dimana pada kesempatan tersebut Kapolres Gresik AKBP Wahyu S Bintoro, SH SIK MSi melaksanakan kegiatan pemberian santunan kepada anak yatim piatu, (20/9).

Bertempat di Rumah Dinas Kapolres Gresik di Randuangung RT. 01 RW. 03 Kota Gresik, acara tersebut di hadiri anggota Polres Gresik, Kyai Abdul Jamil pengasuh Yatim Mandiri Gresik serta 40 anak yatim piatu Mandiri Gresik yang akan menerima santunan.

Kapolres Gresik pada kesempatan tersebut mengatakan 10 Muharram atau Asyura digunakan sebagai momentum untuk menyantuni anak yatim adalah salah satu sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Meskipun menyantuni anak yatim bisa dilakukan kapan saja namun anjuran pada bulan Muharram lebih ditekankan karena ada balasan yang lebih besar berupa diangkatnya derajat orang yang memberikan santunan anak yatim pada bulan ini.

“Selain sunah Rasulullah SAW, Sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai muslim, jika kita memiliki kemampuan, kecukupan materi, dan kemampuan maka anak-anak yatim ini menjadi tanggung jawab umat islam untuk tetap disantuni, disayang, dan dipelihara.” terang Kapolres Gresik.

Kegiatan santunan anak yatim tersebut juga diisi dengan Istighosah, Tahlil, Yasinan, dan Do’a bersama Anak-anak Yatim Piatu Asuhan dari yatim Mandiri Gresik.(Yani)

from BERITA POLISI https://ift.tt/2JfnoWB
via Pakar Seo

Warna dan Bentuk Bendera Nabi Muhammad Berdasarkan Hadist

Bendera ( الرَّايَةُ ) adalah satu di antara simbol identitas yang biasa dibawa saat perang sejak komunitas manusia mulai memiliki seorang pemimpin ( الْخَلِيْفَةُ ) bagi kelompoknya di muka bumi. Bahkan hingga saat ini bendera juga masih dibawa saat terjadi pertempuran maupun peperangan. Bendera juga dibawa di medan perang pada masa Nabi Muhamad SAW dan para pemimpin setelah beliau (الخلفاء الراشدين ). Sedang fungsi penggunaan bendera di medan perang adalah untuk menggertak atau menciutkan nyali lawan ( التَّهْوِيْلُ ). (ibnu Khaldun, al-Muqadimah, 2006, hlm. 202).
Selain di medan perang, bendera biasanya dibawa saat para khalifah maupun pejabat melakukan perjalanan ke luar daerah. Pada kondisi ini, untuk membedakan siapa yang sedang melakukan perjalanan dapat dilihat dari jumlah bendera yang dibawa. Yakni, bendera yang dibawa saat khalifah yang melakukan perjalanan itu lebih banyak dibanding bendera yang dibawa saat pejabat yang melakukan perjalanan. Disamping itu, bendera untuk kekhalifahan memiliki warna khusus, yang berbeda dengan bendera yang dipakai para pejabat. (ibnu Khaldun, al-Muqadimah, 2006, hlm. 202). Demikian pula perihal bendera Nabi SAW, yang konon juga memiliki warna khusus sebagaimana ragam informasi di bawah ini:
Informasi pertama:
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الرَّازِيُّ، أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِي زَائِدَةَ، أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْقُوبَ الثَّقَفِيُّ، حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ عُبَيْدٍ مَوْلَى مُحَمَّدِ بْنِ الْقَاسِمِ، قَالَ: بَعَثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ إِلَى الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ يَسْأَلُهُ عَنْ رَايَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاهِىَ؟ فَقَالَ: كَانَتْ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً مِنْ نَمِرَةٍ.
“Informasi dari Ibrahim bin Musa ar-Razi … Yunus bin Ubaid diutus Muhamad bin al-Qasim untuk bertanya kepada Bara bin Azib tentang bendera Nabi SAW, Bara menjawab, “Bendera Nabi SAW berwarna hitam, berbentuk segi empat (bujur sangkar), terbuat dari kain wol.” (H.r. Abu Daud, 1999, hlm. 293, hadis no. 2591).
Sanad hadis: hasan gharib, menurut at-Tirmizi (at-Tirmizi, 1996, vol. 3, hlm. 306, hadis no. 1680); hasan, menurut al-Bukhari (al-Manawi, Faidhul Qadir, 1972, hlm. 171); dhaif, menurut ulama yang lain (Ahmad bin Hanbal, 1999, vol. 30., hlm. 589, hadis no. 18627).
Informasi kedua:
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْمَرْوَزِيُّ وَهُوَ ابْنُ رَاهَوَيْهِ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنْ عَمَّارٍ الدُّهْنِيِّ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ كَانَ لِوَاؤُهُ يَوْمَ دَخَلَ مَكَّةَ أَبْيَضَ.
“Informasi dari Ishak bin Ibrahim al-Marwazi … dari Jabir, bahwasanya panji Nabi SAW saat memasuki Makkah berwarna putih.” (H.r. Abu Daud, 1999, hlm. 293, hadis no. 2592).
Sanad hadis: gharib, menurut al-Bukhari (al-Mizi, Tuhfatul Asyraf, 1999, vol. 2, hlm. 441, hadis no. 2889); gharib oleh at-Tirmizi (Abu Daud, 1999, hlm. 293, hadis no. 2592).; sahih menurut Muslim (al-Hakim, al-Mustadrak, 1998, vol. 2, hlm. 126, hadis no. 2560).
Informasi ketiga:
حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ مُكْرَمٍ، حَدَّثَنَا سَلْمُ بْنُ قُتَيْبَةَ الشَّعِيرِيُّ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ سِمَاكٍ، عَنْ رَجُلٍ مِنْ قَوْمِهِ، عَنْ آخَرَ مِنْهُمْ قَالَ: رَأَيْتُ رَايَةَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَفْرَاءَ.
“Informasi dari Uqbah bin Mukram … dari sahabat yang tidak diketahui namanya, ia berkata, “Aku melihat bahwasanya bendera Nabi SAW berwarna kuning.”.” (H.r. Abu Daud, 1999, hlm. 293, hadis no. 2593).
Sanad hadis tidak jelas ( جَهالة ) dan/atau tidak diketahui ( مجهول ). (ibnu al-Mulaqin, al-Badru al-Munir, 2004, vol. 9, hlm. 63-64; ar-Rubai, Fathul Ghafar, 1427, vol. 4, hlm. 1761, hadis no. 5177).
Informasi keempat:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ وَهُوَ السَّالِحَانِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ حَيَّانَ، قَال: سَمِعْتُ أَبَا مِجْلَزٍ لَاحِقَ بْنَ حُمَيْدٍ يُحَدِّثُ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ.
“Informasi dari Muhamad bin Rafik … dari ibnu Abas, ia berkata, “Bendera Rasulullah SAW berwarna hitam, sedang panjinya berwarna putih.”.” (H.r. at-Tirmizi,1996, vol. 3, hlm. 306-307, hadis no. 1681).
Sanad hadis: gharib, menurut a-Tirmizi (al-Mubarakfuri, Tuhaftul Ahwazi, tt., vol. 5, hlm. 328, hadis no. 1732); dhaif, menurut al-Iraqi (al-Iraqi, Turhut Tasrib, tt., vol. 7, hlm. 220).
Informasi kelima:
أَخْبَرَنَا أَبُوْ عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، قال: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ (محمد بن يعقوب)، قال: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ، قال: حدثنا يونس بن بُكَيْرٍ، عَنْ ابْنِ إِسْحَاقَ، قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ لِوَاءُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفَتْحِ أَبْيَضَ، وَرَايَتُهُ سَوْدَاءَ قِطْعَةَ مِرْطٍ مُرَجَّلٍ ، وَكَانَتْ الرَّايَةُ تُسَمَّى الْعُقَابَ.
“Aku mendapat kabar dari Abu Abdillah al-Hafiz … dari Aisyah rha., ia berkata, ‘Panji Rasulullah saat memasuki kota Makah berwarna putih, sedang benderanya berwarna hitam berbahan potongan kain wol yang bergambar laki-laki, dan bendera itu dinamai Uqab.’.” (H.r. al-Baihaqi, Dalailun Nubuwah, 1988, vol. 5, hlm. 68).
Saat tulisan ini dibuat, penulis belum menemukan penjelasan perihal sanad hadis yang bersumber dari Aisyah rah. ini. Adapun, yang ada penjelasannya bersumber dari al-Hasan:
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، قَالَ ثنا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي الْفَضْلِ، عَنِ الْحَسَنِ، قَالَ: كَانَتْ رَايَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ تُسَمَّى الْعُقَابَ.
“Informasi dari Wakik … dari al-Hasan, ia berkata, ‘Bahwasanya bendera Nabi SAW berwarna hitam dan dinamai Uqab.’.” (H.r. ibnu Abi Syaibah, 2008, vol. 11, hlm. 219-220, hadis no. 34184).
Sanad hadis: mursal (ibnu Abi Syaibah, 2008, vol. 11, hlm. 220; al-Iraqi, al-Mughni, 1995, vol. 1, hlm. 672).
Informasi keenam:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ زَنْجُوَيْهِ الْمُخَرِّمِيُّ، نَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي السَّرِيِّ الْعَسْقَلَانِيُّ، نَا عَبَّاسُ بْنُ طَالِبٍ، عَنْ حَيَّانَ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ، عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَتْ رَايَةُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ وَلِوَاءُهُ أَبْيَضَ، مَكْتُوبٌ فِيْهِ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ
“Informasi dari Ahmad bin Zanjuwaih al-Mukharimi … dari ibnu Abas ra., ia berkata, ‘Bendera Rasulullah SAW berwarna hitam, sedang panjinya berwarna putih dan ada tulisan kalimat tauhid.’.” (H.r. Abu asy-Syekh, Akhlaqun Nabi SAW, 1998, vol. 2, hlm. 416, hadis no. 424).
Sanad hadis: daif, menurut mayoritas ulama (Abu asy-Syekh, 1998, vol. 2, hlm. 416); sangat daif, menurut ibnu Hajar al-Asqalani. (ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 2001, vol. 6, hlm. 147).
***
Bertolak dari ragam informasi di atas, beberapa catatan perlu kita renungkan, di antaranya:
1. Panji ( اللِّوَاءُ ) adalah sesuatu (kain) yang diikat dan dibelitkan di ujung tombak saat perang. Adapun, bendera ( الرَّايَةُ ) adalah, kain yang diikatkan di ujung tombak saat perang, maupun yang diikat diujung tiang di luar perang. Panji berfungsi untuk menunjukkan posisi pemimpin pasukan, sedang bendera dibawa oleh pasukan perang. (ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 2001, vol. 6, hlm. 147).
2. Yang dimaksud warna hitam bukan berarti bendera Nabi SAW benar-benar berwarna hitam, melainkan kain yang dipakai didominasi warna hitam, sehingga saat dilihat dari kejauhan tampak berwarna hitam (putih kehitam-hitaman). Yang demikian, karena kain yang digunakan berbahan baku wol ( نَمِرَةٌ ) yang biasa dipakai orang Arab, yang mana kain tersebut dibuat menggunakan benang hitam dan putih. (al-Mubarakfuri,Tuhaftul Ahwazi, tt., vol. 5, hlm. 328).
3. Terkait warna bendera Nabi SAW ada tiga versi: pertama, bendera Nabi SAW disebut Uqab ( الْعُقَابُ ), berwarna hitam, berbentuk bujur sangkar; kedua, bendera Nabi
SAW disebut bendera putih ( الرَّايَةُ الْبَيْضَاءُ ); ketiga, bendera Nabi SAW berwarna merah ( الْحَمْرَاءُ ). (ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 2001, vol. 6, hlm. 147; al-Iraqi, Turhut Tasrib, tt., vol. 7, hlm. 221).
Merujuk pada sejumlah keterangan di atas, poin penting yang dapat kita jadikan bahan acuan sebelum mengambil kesimpulan, yakni:
1. Pemakaian bendera sebagai simbol identitas kelompok masyarakat sudah ada jauh sebelum Nabi SAW menggunakannya. Dengan kata lain, penggunaan bendera adalah murni produk budaya yang dikembangkan sesuai selera masing-masing komunitas masyarakat—meliputi bentuk dan warna bendera, bukan produk syariat agama. Sederhananya, penggunaan bendera sebagai simbol identitas kelompok masyarakat hanya untuk membedakan satu kelompok masyarakat tertentu dengan kelompok masyarakat yang lain.
2. Merujuk pada informasi (hadits) di atas, dijelaskan bahwa bentuk bendera Nabi SAW adalah segi empat ‘bujur sangkar’ ( مُرَبَّعٌ ), bukan persegi panjang ( مُسْتَطِيْلٌ). Bila informasi ini dianggap sebagai hukum syariat agama, maka penggunaan bendera persegi panjang, yang kemudian dinisbatkan sebagai bendera Nabi SAW tentu saja berdosa, karena menyalahi dan mengingkari ketentuan asalnya.
3. Terkait warna bendera Nabi SAW, antar informasi terjadi perbedaan, yakni warna hitam, kuning, merah, dan putih, termasuk juga terkait rangkaian transmisinya. Taruh kata ragam informasi di atas dapat dipakai semua ( الجمع بين الأحاديث ), maka penjelasan yang keluar adalah, bahwa warna bendera Nabi SAW itu berubah-ubah sesuai kondisi dan kebutuhan. (as-Sahrazuri, Muqadimah ibnu Shalah, 2006, hlm. 296).
4. Terkait tulisan kalimat tauhid, mayoritas informasi yang ada menjelaskan, bahwa yang bertuliskan kalimat tauhid adalah bendera Nabi SAW, semisal yang dikeluarkan ibnu Hajar al-Asqalani:
كان مكتوبا على رايته: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ.
“Bendera Nabi SAW bertuliskan kalimat tauhid.” (ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 2001, vol. 6, hlm. 147).
Namun, bagi penulis, hal tersebut menjadi aneh, karena term راية masuk kategori lafal muanas, sementara kata ganti (dhamir) yang dipakai dalam informasi keenam merujuk pada lafal muzakar, yakni term لواء . Oleh karena itu, penulis berpandangan bahwa yang bertuliskan kalimat tauhid bukanlah bendera Nabi SAW, melainkan panji Nabi SAW, itu saja kalau informasi keenam dapat digunakan. Namun sayangnya, informasi keenam yang menjelaskan tulisan kalimat tauhid tidak bisa dijadikan dasar hukum, kecuali bagi mereka yang tetap memaksakannya sebagai dasar hukum.
***
Pada akhirnya, kita pun harus mengakui kenyataan sejarah, bahwa penggunaan bendera tidak ada sangkut pautnya dengan syariat agama, begitu pula terkait bentuk ukuran dan warnanya. Bukankah warna bendera para raja paska khalifah pengganti Nabi SAW juga berbeda-beda, yang di antaranya:
1. Dinasti Abasiah, mereka menggunakan bendera warna hitam. Namun, pemilihan warna hitam bukan karena mengikuti informasi yang menjelaskan bila bendera Nabi SAW berwarna hitam, melainkan sebagai tanda kesedihan atas gugurnya para syuhada dari Bani Hasyim ( حزنا على شهدائهم من بني هاشم ), disamping sebagai celaan pada Bani Umayah yang telah membunuh mereka ( نعيا على بني أمية في قتلهم ). Oleh karenya, bendera tersebut dinamai al-musawwidah ( المسوِّدة ).
2. Dinasti Fatimiah ( العُبَيْدِيُّون ), mereka memakai bendera berwarna putih, yang dinamai al-mubaiyidhah ( المُبَيِّضَة ).
3. Khalifah al-Makmun, ia tidak menggunakan bendera warna hitam maupun putih, melainkan menggunakan bendera warna hijau ( الْخَضْرَاء ). (ibnu Khaldun, al-Muqadimah, 2006, hlm. 202).
4. Bahkan hingga sekarang, mayoritas negara-negara di Arab maupun Timur Tengah menggunakan bendera yang berwarna-warni, ada yang hijau, merah, atau kombinasi antara hijau-putih-hitam, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, bila kita membaca ragam literatur karya para ulama atau sarjana muslim terdahulu yang mengupas tentang sistem pemerintahan, mayoritas dari mereka tidak menjelaskan masalah perihal bentuk dan warna bendera yang harus dipakai. Hal ini, membuktikan bahwa para ulama atau sarjana muslim terdahulu sadar bila bendera bukanlah produk syariat agama, melainkan produk budaya semata.

Dan terkait budaya, mayoritas para pendahulu sepakat bila:
الْأَصْلُ فِي الْعُقُوْدِ وَ الْمُعَامَلَاتِ الْإِبَاحَةُ حَتَّى يَأْتِيَ مَا يَدُلُّ عَلَى التَّحْرِيْمِ
“Pada dasarnya, hal-hal yang berkaitan dengan kesepakatan bersama dan hubungan sosial antar manusia boleh dilakukan selama tidak ada dasar hukum yang melarangnya.” (ash-Shawi, at-Taaddudiyyah as-Siyasiyyah, 1996, hlm. 75).
Wallahu a’lam bis-Shawaab

from MUSLIM SEJATI https://ift.tt/2JeRPfm
via pakarseo

Jangan Samakan Bendera HTI dengan Bendera Rasulullah

Peristiwa pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid di Garut pada 22 Oktober lalu diiringi kontroversi. Sebagian menilai itu serupa dengan bendera Nabi Muhammad SAW (Rasulullah) atau Ar-Rayah, sebagian lagi menilai itu sebagai bendera HTI.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) adalah pihak yang meyakini bahwa itu adalah bendera HTI. Mereka menyatakan bendera Rasulullah tidaklah seperti itu.

“Jadi kita belum yakin, belum yakin betul apakah Rasul membawa bendera, bendera itu seperti apa, kita belum yakin betul. Tapi yang jelas, bukan seperti bendera yang dibawa oleh HTI atau siapa pun yang bawa bendera itu,” kata Ketum PBNU Said Aqil Siroj di kantornya, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (24/10/2018).

Dia mengutip keterangan dari ahli bernama Nadirsyah Hosen. Dari situ, dia mendapat penjelasan bendera yang sering dibawa HTI bukanlah bendera Rasulullah.

“Tulisan Profesor Nadirsyah Hosen (menyatakan) bahwa bendera yang dibawa HTI itu bukan bendera Rasulullah dan bendera Khalifah Ar-Rasyid tidak seperti itu,” kata Said.
Soal kontroversi bendera itu, Polri mengaku telah melakukan penyelidikan untuk mengusut jenis bendera yang dibakar oknum Banser di Garut. Berdasarkan keterangan saksi dan penelusuran dokumen, bendera itu dinyatakan sebagai bendera HTI, ormas yang telah dibubarkan pemerintah.

“Itu bendera HTI,” ujar Karo Penmas Polri Brigjen Prasetyo kepada wartawan di Mabes Polri.

Adapun eks jubir HTI Ismail Yusanto sebelumnya telah menyampaikan lembaganya–sebelum dibubarkan–tidak memiliki bendera. “Perlu saya tegaskan di sini bahwa yang dibakar itu bukanlah bendera Hizbut Tahrir Indonesia. Hizbut Tahrir Indonesia tidak punya bendera,” kata Ismail dalam video yang dia unggah lewat akun Twitter-nya, @ismail_yusanto, Selasa (23/10).

from MUSLIM SEJATI https://ift.tt/2PhvRht
via pakarseo

Tidak Pernah Bendera Rasulullah Dikibarkan Saat Situasi Damai

TGB: Bendera Rasulullah Tidak Pernah Dikibarkan di Situasi DamaiEks Gubernur NTB TGH Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) (Foto: Indra Komara/detikcom)
Jakarta – Eks Gubernur NTB TGH Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) merespons insiden pembakaran bertuliskan kalimat tauhid di Garut, Jabar. Menurutnya tidak tepat bila disebut bendera tersebut dikaitkan dengan bendera Rasulullah Nabi Muhammad SAW.

“Kita semua harus jujur dengan apa yang terjadi, saya pikir ketika kita bicara tentang atribut bendera, tidak pas kalau semata kita bicara bahwa, wah itu kan bendera Rasul, misalnya. Itu kan zaman Rasul bendera itu sudah ada,” kata TGB di Jl Proklamasi no 53, Jakarta Pusat, Kamis (25/10/2018).

TGB mengatakan dirinya telah mengecek literatur soal bendera Rasulullah. TGB yang juga sebagai ulama sekaligus cendikiawan muslim ini mengatakan tak pernah menemukan literatur yang menceritakan bendera Rasulullah dikibarkan di situasi damai.

“Saya sampai hari ini, saya mengecek di semua khazanah kitab-kitab hadis tentang perjalanan Rasul, saya dari awal sampai akhir, saya belum pernah menemukan ada satu narasi terkait dengan bendera Rasul itu dikibar-kibarkan di Madinah dalam keadaan damai, dalam keadaan damai, biasa-biasa, lalu bendera masa perang dikibarkan, itu tidak pernah ada. Sampai sekarang saya nggak menemukan,” lanjut dia.

Polisi menyebut bendera yang dibakar tersebut ialah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), organisasi terlarang di Indonesia. TGB kemudian menyinggung soal HTI yang dilarang di negara lain.

Pelarangan tersebut tak serta merta menjadi sebuah sikap anti-Islam. Dia menyebut ada 20 negara yang melarang, termasuk Turki, Arab Saudi, sampai Mesir.

“Ketika kita bicara tentang satu kelompok tertentu yang sering menggunakan bendera itu, kelompok itu tidak hanya dilarang di Indonesia. Kelompok itu dilarang di Turki, Saudi, Mesir, mungkin lebih 20 negara. Apakah itu berarti pemerintah Turki anti-Islam? Apakah itu berarti pemerintah Saudi anti-Islam? Mesir anti-Islam? Ketika melarang kelompok itu, untuk ada di situ saya pikir bukan. Jadi kenapa dilarang pasti ada alasan objektifnya,” jelas dia.

TGB menilai tak seharusnya peristiwa pembakaran bendera itu disebut sebagai pelecehan terhadap bendera Rasul. Sebab pada praktiknya, pengibaran bendera di luar konteks peperangan sebagai sebuah kekeliruan.

Dia menambahkan, saat ini Indonesia dalam keadaan damai. Oleh karena itu pengibaran bendera tersebut tidak tepat.

“Jadi menurut saya juga tidak bisa begitu saja kita bicara, wah ini berarti melecehkan bendera Rasul, tidak bisa mengatakan seperti itu. Karena pada praktiknya kalau pun ada panji, itu panji pada saat perang. Dan kita di Indonesia ini seperti yang berulang kali saya sampaikan, Indonesia adalah tempat di bumi Allah yang paling aman dan damai di tengah perbedaan yang luar biasa tapi dipersatukan diikat semangat kebangsaan,” paparnya.

“Ini situasi yang damai lalu kemudian atribut yang digunakan pada saat perang itu dipakai. Itu menurut saya sangat tidak pas,” kata TGB.

Meski demikian, TGB tetap tidak membenarkan aksi pembakaran bendera tauhid itu. Jika bendera tersebut dikibarkan di luar konteks perang, ada baiknya dilipat diserahkan ke penegak hukum.

“Tapi saya tetap di tengah situasi apapun saya tetap mengatakan tidak usah ada pembakaran karena pasti ada kontroversi, dilipat saja serahkan pada penegak hukum kalau ada proses hukum yang dirasa perlu, silakan diproses,” tuturnya.

from MUSLIM SEJATI https://ift.tt/2PUDw2g
via pakarseo

Pelaku Pencurian di Kantor Dishub Gresik Berhasil Di Amankan Anggota Kepolisian

Beritapolisi.com,-Kepolisian Resort Gresik, Melalui Satreskrim Polres Gresik berhasil menangkap pelaku pencurian yang sedang beraksi dikantor Dishub Kabupaten Gresik, (23/10/18).

Kapolres Gresik AKBP Wahyu S Bintoro, SH SIK MSi melalui PS. Kasubbag Humas Polres Gresik Ipda Srimaryani membenarkan kejadian tersebut dan pelaku sudah diamankan pihaknya usai mendapatkan laporan dari warga.

“Pelaku diketahui berinisial AR (28) warga Desa Gumeno Kecamatan Manyar, kami amankan beserta barang buktinya. Dan sekarang berada di ruang tahanan Polres Gresik,”kata Ipda Srimaryani.

Kasubbag Humas menambahkan bahwa, kejadian tersebut pertama kali diketahui oleh salah satu warga dimana pada saat itu, saksi melihat pelaku gerak gerik mencurigakan seorang pria sedang berada di Pintu Masuk Kantor Dishub bagian Kir Kendaraan Bermotor kondisi saat itu, ketika dilakukan penyelidikan oleh anggota Reskrim Polres Gresik tidak ditemukan hal-hal mencurigakan.

Namun pada saat anggota opsnal Reskrim dan Saksi sedang standby di pintu keluar melihat ada orang yang tidak di kenal sedang keluar dari Kantor Dishub Bagian Kir Kendaraan Bermotor, selanjutnya dilakukan pemeriksaan terhadap orang tersebut.

“Saat dilakukan pemeriksaan dan penggeledahan di temukan 1 ( buah) printer Merk Canon yang di simpan oleh pelaku di semak-semak tempat pelaku berdiri ” ujar kasubbag humas.

Atas kejadian tersebut pelaku AR diamakan anggota Opsnal Satreskrim Polres Gresik untuk dilakukan proses penyidikan , pelaku dikenakan Pasal 363 tentang pencurian.

Sumber:Humas Polres Gresik

from BERITA POLISI https://ift.tt/2qilvjn
via Pakar Seo

Kapolres Gresik dan Forkopimda Cangkrukan Bersama Para Netizen

Beritapolisi.net, Gresik – Kapolres Gresik AKBP Wahyu S Bintoro, SH SIK MSi mengelar cangkrukan kamtibmas bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Cangkrukan Kabupaten Gresik beserta Netizen Gresik Sumpek, Selasa Malam, 23/10/2018.

Acara tersebut di gelar di lokasi bekas penambangan kapur, Cafe Bukit Bintang Jalan Panggang Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik. Hadir pada acara tersebut Bupati Gresik, Wakil Bupati Gresik, Kajari Gresik dan para netizen serta admin grup facebook Gresik Sumpek.

Kapolres Gresik AKBP Wahyu S Bintoro, SIK SH MSi, mengawali sambutannya, mengucapkan terima kasih atas dukungan dan peran serta Forkopimda dan Netizen Gresik Sumpek pada acara ini, membangun silaturahmi dan komunikasi serta menyamakan persepsi untuk mewujudkan situasi aman dan kondusif di wilayah Gresik jelang Pemilu 2019.

Bupati Gresik Dr. Ir. H. Sambari Halim Radianto,ST., M.Si mengapresiasi kegiatan cangkrukan bersama Kapolres Gresik “disini Kita bisa saling sharing dan bertukar pikiran, tujuan pokok saling mengenal dan tegur sapa satu dengan yang lain bersama-sama menciptakan wilayah Gresik yang aman dan kondusif, saya harap kegiatan seperti ini bisa dilakukan bertahap per Kecamatan yang ada di Kabupaten Gresik.” ungkapnya.

Pada pertemuan ini, turut membahas berbagai persoalan yang terjadi di wilayah Kabupaten Gresik seperti masalah ekonomi, pembangunan, hingga pengungkapan kasus yang terjadi.

Pada kesempatan tersebut, Kapolres juga meminta para netizen untuk membantu Kepolisian, khususnya Polres Gresik, dalam menghadapi agenda kambtibmas jelang Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2019, yang menurut Kapolres Gresik saat ini perkembangan teknologi semakin maju dan berkembang, dan kejahatan seperti ujaran kebencian yang diviralkan saling menjatuhkan kelompok lain itu sangat membuat situasi memanas.

“Saya harapkan semua ini bisa kita antisipasi dengan pemberitaan yang positif, karena dengan keterbasan personel, kami tidak bisa bekerja sendiri, sehingga kekurangan tersebut dapat ditutupi oleh rekan-rekan sekalian,” ungkap Kapolres Gresik.

Di akhir sambutannya, kapolres berharap agar kerjasama dan sinergitas antara pihak kepolisian khususnya Polres Gresik dengan Forkopimda Kab. Gresik dan Netizen Gresik tetap terjalin dengan baik dan terus ditingkatkan.

“Saya harap kita bisa bersinergi, bisa kompak, bisa solid, untuk sama-sama menjaga dan mewujudkan situasi kamtibmas di Gresik ini tetap kondusif, aman dan terkendali,” pungkas AKBP Wahyu S Bintoro.

Acara diakhiri dengan Deklarasi Pemilu Damai oleh anggota netizen Gresik Sumpek, selama kegiatan berlangsung aman dan kondusif.

from BERITA POLISI NETWORK https://ift.tt/2O2THsF
via pakar seo