Tag Archives: IFTTT

Warna dan Bentuk Bendera Nabi Muhammad Berdasarkan Hadist

Bendera ( الرَّايَةُ ) adalah satu di antara simbol identitas yang biasa dibawa saat perang sejak komunitas manusia mulai memiliki seorang pemimpin ( الْخَلِيْفَةُ ) bagi kelompoknya di muka bumi. Bahkan hingga saat ini bendera juga masih dibawa saat terjadi pertempuran maupun peperangan. Bendera juga dibawa di medan perang pada masa Nabi Muhamad SAW dan para pemimpin setelah beliau (الخلفاء الراشدين ). Sedang fungsi penggunaan bendera di medan perang adalah untuk menggertak atau menciutkan nyali lawan ( التَّهْوِيْلُ ). (ibnu Khaldun, al-Muqadimah, 2006, hlm. 202).
Selain di medan perang, bendera biasanya dibawa saat para khalifah maupun pejabat melakukan perjalanan ke luar daerah. Pada kondisi ini, untuk membedakan siapa yang sedang melakukan perjalanan dapat dilihat dari jumlah bendera yang dibawa. Yakni, bendera yang dibawa saat khalifah yang melakukan perjalanan itu lebih banyak dibanding bendera yang dibawa saat pejabat yang melakukan perjalanan. Disamping itu, bendera untuk kekhalifahan memiliki warna khusus, yang berbeda dengan bendera yang dipakai para pejabat. (ibnu Khaldun, al-Muqadimah, 2006, hlm. 202). Demikian pula perihal bendera Nabi SAW, yang konon juga memiliki warna khusus sebagaimana ragam informasi di bawah ini:
Informasi pertama:
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الرَّازِيُّ، أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِي زَائِدَةَ، أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْقُوبَ الثَّقَفِيُّ، حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ عُبَيْدٍ مَوْلَى مُحَمَّدِ بْنِ الْقَاسِمِ، قَالَ: بَعَثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ إِلَى الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ يَسْأَلُهُ عَنْ رَايَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاهِىَ؟ فَقَالَ: كَانَتْ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً مِنْ نَمِرَةٍ.
“Informasi dari Ibrahim bin Musa ar-Razi … Yunus bin Ubaid diutus Muhamad bin al-Qasim untuk bertanya kepada Bara bin Azib tentang bendera Nabi SAW, Bara menjawab, “Bendera Nabi SAW berwarna hitam, berbentuk segi empat (bujur sangkar), terbuat dari kain wol.” (H.r. Abu Daud, 1999, hlm. 293, hadis no. 2591).
Sanad hadis: hasan gharib, menurut at-Tirmizi (at-Tirmizi, 1996, vol. 3, hlm. 306, hadis no. 1680); hasan, menurut al-Bukhari (al-Manawi, Faidhul Qadir, 1972, hlm. 171); dhaif, menurut ulama yang lain (Ahmad bin Hanbal, 1999, vol. 30., hlm. 589, hadis no. 18627).
Informasi kedua:
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْمَرْوَزِيُّ وَهُوَ ابْنُ رَاهَوَيْهِ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنْ عَمَّارٍ الدُّهْنِيِّ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ كَانَ لِوَاؤُهُ يَوْمَ دَخَلَ مَكَّةَ أَبْيَضَ.
“Informasi dari Ishak bin Ibrahim al-Marwazi … dari Jabir, bahwasanya panji Nabi SAW saat memasuki Makkah berwarna putih.” (H.r. Abu Daud, 1999, hlm. 293, hadis no. 2592).
Sanad hadis: gharib, menurut al-Bukhari (al-Mizi, Tuhfatul Asyraf, 1999, vol. 2, hlm. 441, hadis no. 2889); gharib oleh at-Tirmizi (Abu Daud, 1999, hlm. 293, hadis no. 2592).; sahih menurut Muslim (al-Hakim, al-Mustadrak, 1998, vol. 2, hlm. 126, hadis no. 2560).
Informasi ketiga:
حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ مُكْرَمٍ، حَدَّثَنَا سَلْمُ بْنُ قُتَيْبَةَ الشَّعِيرِيُّ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ سِمَاكٍ، عَنْ رَجُلٍ مِنْ قَوْمِهِ، عَنْ آخَرَ مِنْهُمْ قَالَ: رَأَيْتُ رَايَةَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَفْرَاءَ.
“Informasi dari Uqbah bin Mukram … dari sahabat yang tidak diketahui namanya, ia berkata, “Aku melihat bahwasanya bendera Nabi SAW berwarna kuning.”.” (H.r. Abu Daud, 1999, hlm. 293, hadis no. 2593).
Sanad hadis tidak jelas ( جَهالة ) dan/atau tidak diketahui ( مجهول ). (ibnu al-Mulaqin, al-Badru al-Munir, 2004, vol. 9, hlm. 63-64; ar-Rubai, Fathul Ghafar, 1427, vol. 4, hlm. 1761, hadis no. 5177).
Informasi keempat:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ وَهُوَ السَّالِحَانِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ حَيَّانَ، قَال: سَمِعْتُ أَبَا مِجْلَزٍ لَاحِقَ بْنَ حُمَيْدٍ يُحَدِّثُ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ، وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ.
“Informasi dari Muhamad bin Rafik … dari ibnu Abas, ia berkata, “Bendera Rasulullah SAW berwarna hitam, sedang panjinya berwarna putih.”.” (H.r. at-Tirmizi,1996, vol. 3, hlm. 306-307, hadis no. 1681).
Sanad hadis: gharib, menurut a-Tirmizi (al-Mubarakfuri, Tuhaftul Ahwazi, tt., vol. 5, hlm. 328, hadis no. 1732); dhaif, menurut al-Iraqi (al-Iraqi, Turhut Tasrib, tt., vol. 7, hlm. 220).
Informasi kelima:
أَخْبَرَنَا أَبُوْ عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، قال: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ (محمد بن يعقوب)، قال: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ، قال: حدثنا يونس بن بُكَيْرٍ، عَنْ ابْنِ إِسْحَاقَ، قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ لِوَاءُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفَتْحِ أَبْيَضَ، وَرَايَتُهُ سَوْدَاءَ قِطْعَةَ مِرْطٍ مُرَجَّلٍ ، وَكَانَتْ الرَّايَةُ تُسَمَّى الْعُقَابَ.
“Aku mendapat kabar dari Abu Abdillah al-Hafiz … dari Aisyah rha., ia berkata, ‘Panji Rasulullah saat memasuki kota Makah berwarna putih, sedang benderanya berwarna hitam berbahan potongan kain wol yang bergambar laki-laki, dan bendera itu dinamai Uqab.’.” (H.r. al-Baihaqi, Dalailun Nubuwah, 1988, vol. 5, hlm. 68).
Saat tulisan ini dibuat, penulis belum menemukan penjelasan perihal sanad hadis yang bersumber dari Aisyah rah. ini. Adapun, yang ada penjelasannya bersumber dari al-Hasan:
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، قَالَ ثنا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي الْفَضْلِ، عَنِ الْحَسَنِ، قَالَ: كَانَتْ رَايَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ تُسَمَّى الْعُقَابَ.
“Informasi dari Wakik … dari al-Hasan, ia berkata, ‘Bahwasanya bendera Nabi SAW berwarna hitam dan dinamai Uqab.’.” (H.r. ibnu Abi Syaibah, 2008, vol. 11, hlm. 219-220, hadis no. 34184).
Sanad hadis: mursal (ibnu Abi Syaibah, 2008, vol. 11, hlm. 220; al-Iraqi, al-Mughni, 1995, vol. 1, hlm. 672).
Informasi keenam:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ زَنْجُوَيْهِ الْمُخَرِّمِيُّ، نَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي السَّرِيِّ الْعَسْقَلَانِيُّ، نَا عَبَّاسُ بْنُ طَالِبٍ، عَنْ حَيَّانَ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ، عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَتْ رَايَةُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْدَاءَ وَلِوَاءُهُ أَبْيَضَ، مَكْتُوبٌ فِيْهِ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ
“Informasi dari Ahmad bin Zanjuwaih al-Mukharimi … dari ibnu Abas ra., ia berkata, ‘Bendera Rasulullah SAW berwarna hitam, sedang panjinya berwarna putih dan ada tulisan kalimat tauhid.’.” (H.r. Abu asy-Syekh, Akhlaqun Nabi SAW, 1998, vol. 2, hlm. 416, hadis no. 424).
Sanad hadis: daif, menurut mayoritas ulama (Abu asy-Syekh, 1998, vol. 2, hlm. 416); sangat daif, menurut ibnu Hajar al-Asqalani. (ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 2001, vol. 6, hlm. 147).
***
Bertolak dari ragam informasi di atas, beberapa catatan perlu kita renungkan, di antaranya:
1. Panji ( اللِّوَاءُ ) adalah sesuatu (kain) yang diikat dan dibelitkan di ujung tombak saat perang. Adapun, bendera ( الرَّايَةُ ) adalah, kain yang diikatkan di ujung tombak saat perang, maupun yang diikat diujung tiang di luar perang. Panji berfungsi untuk menunjukkan posisi pemimpin pasukan, sedang bendera dibawa oleh pasukan perang. (ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 2001, vol. 6, hlm. 147).
2. Yang dimaksud warna hitam bukan berarti bendera Nabi SAW benar-benar berwarna hitam, melainkan kain yang dipakai didominasi warna hitam, sehingga saat dilihat dari kejauhan tampak berwarna hitam (putih kehitam-hitaman). Yang demikian, karena kain yang digunakan berbahan baku wol ( نَمِرَةٌ ) yang biasa dipakai orang Arab, yang mana kain tersebut dibuat menggunakan benang hitam dan putih. (al-Mubarakfuri,Tuhaftul Ahwazi, tt., vol. 5, hlm. 328).
3. Terkait warna bendera Nabi SAW ada tiga versi: pertama, bendera Nabi SAW disebut Uqab ( الْعُقَابُ ), berwarna hitam, berbentuk bujur sangkar; kedua, bendera Nabi
SAW disebut bendera putih ( الرَّايَةُ الْبَيْضَاءُ ); ketiga, bendera Nabi SAW berwarna merah ( الْحَمْرَاءُ ). (ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 2001, vol. 6, hlm. 147; al-Iraqi, Turhut Tasrib, tt., vol. 7, hlm. 221).
Merujuk pada sejumlah keterangan di atas, poin penting yang dapat kita jadikan bahan acuan sebelum mengambil kesimpulan, yakni:
1. Pemakaian bendera sebagai simbol identitas kelompok masyarakat sudah ada jauh sebelum Nabi SAW menggunakannya. Dengan kata lain, penggunaan bendera adalah murni produk budaya yang dikembangkan sesuai selera masing-masing komunitas masyarakat—meliputi bentuk dan warna bendera, bukan produk syariat agama. Sederhananya, penggunaan bendera sebagai simbol identitas kelompok masyarakat hanya untuk membedakan satu kelompok masyarakat tertentu dengan kelompok masyarakat yang lain.
2. Merujuk pada informasi (hadits) di atas, dijelaskan bahwa bentuk bendera Nabi SAW adalah segi empat ‘bujur sangkar’ ( مُرَبَّعٌ ), bukan persegi panjang ( مُسْتَطِيْلٌ). Bila informasi ini dianggap sebagai hukum syariat agama, maka penggunaan bendera persegi panjang, yang kemudian dinisbatkan sebagai bendera Nabi SAW tentu saja berdosa, karena menyalahi dan mengingkari ketentuan asalnya.
3. Terkait warna bendera Nabi SAW, antar informasi terjadi perbedaan, yakni warna hitam, kuning, merah, dan putih, termasuk juga terkait rangkaian transmisinya. Taruh kata ragam informasi di atas dapat dipakai semua ( الجمع بين الأحاديث ), maka penjelasan yang keluar adalah, bahwa warna bendera Nabi SAW itu berubah-ubah sesuai kondisi dan kebutuhan. (as-Sahrazuri, Muqadimah ibnu Shalah, 2006, hlm. 296).
4. Terkait tulisan kalimat tauhid, mayoritas informasi yang ada menjelaskan, bahwa yang bertuliskan kalimat tauhid adalah bendera Nabi SAW, semisal yang dikeluarkan ibnu Hajar al-Asqalani:
كان مكتوبا على رايته: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ.
“Bendera Nabi SAW bertuliskan kalimat tauhid.” (ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 2001, vol. 6, hlm. 147).
Namun, bagi penulis, hal tersebut menjadi aneh, karena term راية masuk kategori lafal muanas, sementara kata ganti (dhamir) yang dipakai dalam informasi keenam merujuk pada lafal muzakar, yakni term لواء . Oleh karena itu, penulis berpandangan bahwa yang bertuliskan kalimat tauhid bukanlah bendera Nabi SAW, melainkan panji Nabi SAW, itu saja kalau informasi keenam dapat digunakan. Namun sayangnya, informasi keenam yang menjelaskan tulisan kalimat tauhid tidak bisa dijadikan dasar hukum, kecuali bagi mereka yang tetap memaksakannya sebagai dasar hukum.
***
Pada akhirnya, kita pun harus mengakui kenyataan sejarah, bahwa penggunaan bendera tidak ada sangkut pautnya dengan syariat agama, begitu pula terkait bentuk ukuran dan warnanya. Bukankah warna bendera para raja paska khalifah pengganti Nabi SAW juga berbeda-beda, yang di antaranya:
1. Dinasti Abasiah, mereka menggunakan bendera warna hitam. Namun, pemilihan warna hitam bukan karena mengikuti informasi yang menjelaskan bila bendera Nabi SAW berwarna hitam, melainkan sebagai tanda kesedihan atas gugurnya para syuhada dari Bani Hasyim ( حزنا على شهدائهم من بني هاشم ), disamping sebagai celaan pada Bani Umayah yang telah membunuh mereka ( نعيا على بني أمية في قتلهم ). Oleh karenya, bendera tersebut dinamai al-musawwidah ( المسوِّدة ).
2. Dinasti Fatimiah ( العُبَيْدِيُّون ), mereka memakai bendera berwarna putih, yang dinamai al-mubaiyidhah ( المُبَيِّضَة ).
3. Khalifah al-Makmun, ia tidak menggunakan bendera warna hitam maupun putih, melainkan menggunakan bendera warna hijau ( الْخَضْرَاء ). (ibnu Khaldun, al-Muqadimah, 2006, hlm. 202).
4. Bahkan hingga sekarang, mayoritas negara-negara di Arab maupun Timur Tengah menggunakan bendera yang berwarna-warni, ada yang hijau, merah, atau kombinasi antara hijau-putih-hitam, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, bila kita membaca ragam literatur karya para ulama atau sarjana muslim terdahulu yang mengupas tentang sistem pemerintahan, mayoritas dari mereka tidak menjelaskan masalah perihal bentuk dan warna bendera yang harus dipakai. Hal ini, membuktikan bahwa para ulama atau sarjana muslim terdahulu sadar bila bendera bukanlah produk syariat agama, melainkan produk budaya semata.

Dan terkait budaya, mayoritas para pendahulu sepakat bila:
الْأَصْلُ فِي الْعُقُوْدِ وَ الْمُعَامَلَاتِ الْإِبَاحَةُ حَتَّى يَأْتِيَ مَا يَدُلُّ عَلَى التَّحْرِيْمِ
“Pada dasarnya, hal-hal yang berkaitan dengan kesepakatan bersama dan hubungan sosial antar manusia boleh dilakukan selama tidak ada dasar hukum yang melarangnya.” (ash-Shawi, at-Taaddudiyyah as-Siyasiyyah, 1996, hlm. 75).
Wallahu a’lam bis-Shawaab

from MUSLIM SEJATI https://ift.tt/2JeRPfm
via pakarseo

Jangan Samakan Bendera HTI dengan Bendera Rasulullah

Peristiwa pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid di Garut pada 22 Oktober lalu diiringi kontroversi. Sebagian menilai itu serupa dengan bendera Nabi Muhammad SAW (Rasulullah) atau Ar-Rayah, sebagian lagi menilai itu sebagai bendera HTI.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) adalah pihak yang meyakini bahwa itu adalah bendera HTI. Mereka menyatakan bendera Rasulullah tidaklah seperti itu.

“Jadi kita belum yakin, belum yakin betul apakah Rasul membawa bendera, bendera itu seperti apa, kita belum yakin betul. Tapi yang jelas, bukan seperti bendera yang dibawa oleh HTI atau siapa pun yang bawa bendera itu,” kata Ketum PBNU Said Aqil Siroj di kantornya, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (24/10/2018).

Dia mengutip keterangan dari ahli bernama Nadirsyah Hosen. Dari situ, dia mendapat penjelasan bendera yang sering dibawa HTI bukanlah bendera Rasulullah.

“Tulisan Profesor Nadirsyah Hosen (menyatakan) bahwa bendera yang dibawa HTI itu bukan bendera Rasulullah dan bendera Khalifah Ar-Rasyid tidak seperti itu,” kata Said.
Soal kontroversi bendera itu, Polri mengaku telah melakukan penyelidikan untuk mengusut jenis bendera yang dibakar oknum Banser di Garut. Berdasarkan keterangan saksi dan penelusuran dokumen, bendera itu dinyatakan sebagai bendera HTI, ormas yang telah dibubarkan pemerintah.

“Itu bendera HTI,” ujar Karo Penmas Polri Brigjen Prasetyo kepada wartawan di Mabes Polri.

Adapun eks jubir HTI Ismail Yusanto sebelumnya telah menyampaikan lembaganya–sebelum dibubarkan–tidak memiliki bendera. “Perlu saya tegaskan di sini bahwa yang dibakar itu bukanlah bendera Hizbut Tahrir Indonesia. Hizbut Tahrir Indonesia tidak punya bendera,” kata Ismail dalam video yang dia unggah lewat akun Twitter-nya, @ismail_yusanto, Selasa (23/10).

from MUSLIM SEJATI https://ift.tt/2PhvRht
via pakarseo

Tidak Pernah Bendera Rasulullah Dikibarkan Saat Situasi Damai

TGB: Bendera Rasulullah Tidak Pernah Dikibarkan di Situasi DamaiEks Gubernur NTB TGH Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) (Foto: Indra Komara/detikcom)
Jakarta – Eks Gubernur NTB TGH Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) merespons insiden pembakaran bertuliskan kalimat tauhid di Garut, Jabar. Menurutnya tidak tepat bila disebut bendera tersebut dikaitkan dengan bendera Rasulullah Nabi Muhammad SAW.

“Kita semua harus jujur dengan apa yang terjadi, saya pikir ketika kita bicara tentang atribut bendera, tidak pas kalau semata kita bicara bahwa, wah itu kan bendera Rasul, misalnya. Itu kan zaman Rasul bendera itu sudah ada,” kata TGB di Jl Proklamasi no 53, Jakarta Pusat, Kamis (25/10/2018).

TGB mengatakan dirinya telah mengecek literatur soal bendera Rasulullah. TGB yang juga sebagai ulama sekaligus cendikiawan muslim ini mengatakan tak pernah menemukan literatur yang menceritakan bendera Rasulullah dikibarkan di situasi damai.

“Saya sampai hari ini, saya mengecek di semua khazanah kitab-kitab hadis tentang perjalanan Rasul, saya dari awal sampai akhir, saya belum pernah menemukan ada satu narasi terkait dengan bendera Rasul itu dikibar-kibarkan di Madinah dalam keadaan damai, dalam keadaan damai, biasa-biasa, lalu bendera masa perang dikibarkan, itu tidak pernah ada. Sampai sekarang saya nggak menemukan,” lanjut dia.

Polisi menyebut bendera yang dibakar tersebut ialah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), organisasi terlarang di Indonesia. TGB kemudian menyinggung soal HTI yang dilarang di negara lain.

Pelarangan tersebut tak serta merta menjadi sebuah sikap anti-Islam. Dia menyebut ada 20 negara yang melarang, termasuk Turki, Arab Saudi, sampai Mesir.

“Ketika kita bicara tentang satu kelompok tertentu yang sering menggunakan bendera itu, kelompok itu tidak hanya dilarang di Indonesia. Kelompok itu dilarang di Turki, Saudi, Mesir, mungkin lebih 20 negara. Apakah itu berarti pemerintah Turki anti-Islam? Apakah itu berarti pemerintah Saudi anti-Islam? Mesir anti-Islam? Ketika melarang kelompok itu, untuk ada di situ saya pikir bukan. Jadi kenapa dilarang pasti ada alasan objektifnya,” jelas dia.

TGB menilai tak seharusnya peristiwa pembakaran bendera itu disebut sebagai pelecehan terhadap bendera Rasul. Sebab pada praktiknya, pengibaran bendera di luar konteks peperangan sebagai sebuah kekeliruan.

Dia menambahkan, saat ini Indonesia dalam keadaan damai. Oleh karena itu pengibaran bendera tersebut tidak tepat.

“Jadi menurut saya juga tidak bisa begitu saja kita bicara, wah ini berarti melecehkan bendera Rasul, tidak bisa mengatakan seperti itu. Karena pada praktiknya kalau pun ada panji, itu panji pada saat perang. Dan kita di Indonesia ini seperti yang berulang kali saya sampaikan, Indonesia adalah tempat di bumi Allah yang paling aman dan damai di tengah perbedaan yang luar biasa tapi dipersatukan diikat semangat kebangsaan,” paparnya.

“Ini situasi yang damai lalu kemudian atribut yang digunakan pada saat perang itu dipakai. Itu menurut saya sangat tidak pas,” kata TGB.

Meski demikian, TGB tetap tidak membenarkan aksi pembakaran bendera tauhid itu. Jika bendera tersebut dikibarkan di luar konteks perang, ada baiknya dilipat diserahkan ke penegak hukum.

“Tapi saya tetap di tengah situasi apapun saya tetap mengatakan tidak usah ada pembakaran karena pasti ada kontroversi, dilipat saja serahkan pada penegak hukum kalau ada proses hukum yang dirasa perlu, silakan diproses,” tuturnya.

from MUSLIM SEJATI https://ift.tt/2PUDw2g
via pakarseo

Hadiri Haul KH Ibrahim Tamim Ke-68 Kapolres Gresik Berdoa Dengan Khusyuk

 

 

Tribratanews-gresik.com – Kapolres Gresik AKBP Wahyu S Bintoro, SH SIK MSi. bersama Bupati Gresik Dr.H. Moh. Sambari Halim Radianto menghadiri kegiatan Majelis Al-Qur’an & Dzikrudz Dzakirin “AL-ITTIHAD” yang digelar di Sepanjang Jalan H. Samanhudi, Gresik.

Kegiatan Majelis Al-Qur’an & Dzikrudz Dzakirin dalam rangka Haul KH. Ibrahim Tamim ke-68, KH. Ahmad Wahib Tamim ke-35 dan Hj Mas Djamilah ke-17, Minggu Malam (21/10/2018).

Kegiatan tersebut dihadirin Bupati Gresik,Kapolres Gresik AKBP Wahyu S Bintoro, SH SIK MSi, KH. Muchtar Jamil Tuan rumah acara Haul al- Ittihad, Khuffad Semaan Al-Qur’an KH. M. Fatoni, Pimpinan Semaan Al-Qur’an Gresik Gus H. Ahmad Faiz, Khuffad wilayah Gresik-Sidoarjo dan Mojokerto, KH. M. Naifuddin ( Khotmil Qur’an ) serta ribuan jamaah haul Al- Ittihad.

Pada kegiatan Majelis Al-Qur’an & Dzikrudz Dzakirin “AL-ITTIHAD”, Kapolres Gresik mengucap syukur kepada Allah SWT karena sampai saat ini kita masih diberikan kesehatan jasmani maupun rohani sehingga kita bisa berkumpul dalam pengabdian kepada masyarakat untuk melaksanakan “Kunjungan 1000 Tokoh”.

” Kami dari Polres Gresik mempunyai Program ‘Kunjungan 1000 Tokoh’, selaku aparatur negara sekaligus penegak hukum akan lebih mendekatkan diri untuk menjalin sinergitas kepada Toga dan Tomas yang ada di wilayah Gresik khususnya.” jelas Kapolres Gresik.

Dalam rangka menghadapi Sumpah Pemuda 28 Oktober 2018, Kapolres akan menggelar lomba MTQ Hafidz Qur’an Kapolda CUP pada tanggal 26,27,28 Oktober 2018 adapun Peserta 180 orang dari 30 Kabupaten atau Kota se-Jatim kita harapkan membawa berkah kebaikan bagi kita semua terutama mengajak generasi muda pecinta Al Quran.

” Dengan menggandeng seluruh stake Holder dan para instansi terkait, Kami berharap siskamtibmas diwilayah Kabupaten Gresik tetap aman terkendali” terang AKBP Wahyu.

Dengan menjunjung tinggi soliditas TNI Polri dan masyarakat guna menjaga situasi menjelang pemilu 2019 yang aman dan lancar. Sebagai aparat penegak Hukum Kapolres Gresik berharap bersama masyarakat dapat mendinginkan suasana dengan kegiatan-kegiatan seperti cangkrukan, ngopi kamtibmas, senam bersama dan kegiatan positif lainnya.

from MUSLIM SEJATI https://ift.tt/2OHHCye
via pakarseo

Semarak Event Pacu Kuda, Kaplres Tanah Datar Siapkan Musholla Mobile

Ditengah kesibukan masyarakat Tanah Datar menyaksikan event Pacu Kuda Wirabraja Open Race 2018, Kapolres Tanah Datar AKBP H. Bayuaji Yudha Prajas, SH yang ikut menyaksikan pacu kuda juga memberikan pelayanan kepada masyarakat, yaitu menyediakan tempat ibadah sholat.

Hal tersebut adalah Mushalla Mobile Polres Tanah Datar. Dua unit kendaraan dinas milik Polres Tanah Datar dimanfaatkan untuk masyarakat beribadah.

“Mobil truk kita jadikan tempat shalat, sedangkan yang satunya lagi kita jadikan untuk tempat mengambil air wudhu”, kata Kapolres Tanah Datar AKBP Bayuaji.

Diadakan Mushalla Mobile ini bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam melaksanakan ibadah sholat. Pada saat waktu sholat masuk, banyak masyarakat yang mengantri untuk melaksanakan ibadah sholat di mobil dinas

Pada hari pertama pacu kuda, banyak masyarakat yang mengeluhkan tempat ibadah yang karena tempat ibadah yang kebanyakan jauh dari lokasi pacu kuda.

“Selain kendaraan masyarakat banyak yang tidak bisa keluar, sehingga kami memanfaatkan kendaraan dinas untuk digunakan masyarakat untuk shalat”, tambah Kapolres.

Harapan dari masyarakat semoga pelayanan Mushalla Mobile ini dapat beroperasi ketika adanya kegiatan yang bersifat ramai ini.(*)

from MUSLIM SEJATI https://ift.tt/2SaaFbz
via pakarseo

Pentingnya Membangun Kontra Narasi Ekstremisme dengan Cinta

Salah satu faktor penyebab yang bisa memengaruhi pola pikir dan sikap masyarakat, terutama generasi muda adalah apa yang terpapar di media sosial, termasuk portal media online.

Hal ini mengingat jumlah pengguna internet dan pengguna layanan media sosial di Indonesia cukup besar. Bahkan, pada awal 2017 lalu, perusahaan riset We Are Social menyebut Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan jumlah pengguna internet terbesar di dunia.

Karena pengaruh konten yang terpapar di media sosial, seseorang bisa saja meyakini, seyakin-yakinnya tentang suatu kebenaran. Padahal, sesuatu itu sebenarnya tidak tepat untuk diyakini sebagai sebuah kebenaran yang sebenar-benarnya.

Seseorang, sangat mungkin akan berperilaku ekstrem dan radikal karena meyakini sesuatu yang ia perbuat merupakan keniscayaan. Padahal, ia hanyalah korban dari kebodohan dan ketidakmandirian atas dirinya sendiri karena terpengaruh konten  narasi ekstremisme yang dibumbui ayat-ayat Tuhan.

Terlebih lagi bagi yang memahami ajaran agama secara dangkal, seperti memahami ayat secara tekstual, narasi kebencian yang mengarah kepada tindakan radikal justru diyakini sebagai kebenaran yang harus diperjuangkan, bahkan mereka rela mati untuk mempertahankan dan memperjuangkannya.

Mirisnya, selama ini  gerakan kelompok ektremis-radikalis  seolah sudah identik (diidentikkan) dengan gerakan Islam, sehingga muncul istilah Islam radikal. Sungguh, sebuah fakta yang bertolak belakang dengan Islam itu sendiri yang kehadirannya justru sebagai rahmatan lil alamin.

Temuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menyebutkan bahwa lembaga pendidikan dan masjid menjadi salah satu tempat subur penyemaian radikalisme semakin menguatkan anggapan Barat dan anggapan sebagaian masyarakat kita sendiri  tentang stigma negatif Islam terkait radikalisme-terorisme akibat ulah segelintir ‘yang mengaku Islam’.

Lalu, siapa yang salah, siapa  yang patut dipersalahkan dan pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab atas semua ini?

Secara struktural, pemerintah sebagai penyelenggara negara mempunyai tanggung jawab utama untuk menanggulangi dan mengantisipasi segala tindakan yang mengarah kepada perilaku ekstrem-radikal karena dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bagaimanapun, konsep NKRI adalah keputusan final yang harus terus dijaga dan dipertahankan dari rongrongan pihak-pihak yang ingin mengganti  sistem dan bentuk negara sesuai dengan keinginannya.

Namun, menjadi tanggung jawab kita semua untuk menangkal dan mengantisipasinya ketika perilaku ekstrem-radikal sudah terasa meresahkan masyarakat dengan tindakan teror membabi buta yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia tak berdosa.

Perlunya Menanam Cinta

Gerakan Islam Cinta (GIC) yang dideklarasikan oleh 40 tokoh muslim Indonesia pada tahun 2012 di Jakarta sebagai  respons kaum muslim moderat terhadap fenomena intoleransi dan radikalisme yang mengatasnamakan agama, bisa kita jadikan rujukan untuk mendidik dan mengarahkan generasi muda penerus bangsa.

Tidak akan pernah ada istilah Islam radikal dan pengindentikan Islam dengan gerakan terorisme global jika semua umat Islam di seluruh dunia mempunyai pemahaman seperti apa yang disampaikan Buya  Ahmad Syafii Maarif dalam deklarasi tersebut bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian, keamanan, dan cinta kasih.

Narasi radikalisme, pesan-pesan intoleran, dan ajaran yang berpotensi pada kekerasan tidak akan mungkin keluar dari mulut (yang mengaku) ulama/ustadz. Tidak mungkin pula disampaikan dalam ceramah dan khotbah Jumat (sebagaimana temuan BNPT), jika mereka mau memahami Islam secara utuh. Islam sebagai sebuah nilai. Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Cinta membawa kedamaian. Tak ada kebaikan terwujud tanpa cinta. Bahkan, tanpa cinta yang menghasilkan tutur kata lemah lembut dan akhlak mulia, bisa dipastikan dakwah Nabi Muhamad dalam mengenalkan dan mengajarkan Islam  akan gagal.

Jika hati sudah dipenuhi cinta, jangankan menghilangkan nyawa sesama, menyakiti dengan kata-kata pun tidak mungkin tega melakukannya.

Dalam lingkup keluarga, jika orang tua berhasil menanamkan cinta di hati anak-anaknya, seberapa deras arus informasi dengan konten-konten ujaran kebencian yang menjerumuskan, tidak akan membawa pengaruh pada anak-anak muda pengguna sosial media.

Fanatisme dalam beragama seringkali menjadi kambing hitam atas perilaku radikal para pelaku teror yang rela mengorbannya nyawanya sendiri dalam aksi-aksinya. Fanatismelah yang sering dianggap menjadi penyebab konflik, baik konflik antarsuku, ras maupun agama dan antargolongan (SARA).

Akan tetapi sekali lagi, apabila pemahaman terhadap Islam didasari dan mengikuti ajaran perdamaian, keamanan, dan cinta kasih, maka fanatisme dan keyakinan atas kebenaran ajaran Islam akan menghasilkan output berupa kebaikan.

Hasil riset Seknas Gusdurian bersama International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) menyebutkan mayoritas anak muda bersikap menolak terhadap tindakan radikal dan ekstrem berbasis agama, meski ada kecenderungan penurunan toleransi

Artinya, mayoritas anak muda masih punya penalaran yang waras, sehingga bisa membedakan mana baik, mana buruk. Bagaimanapun, tidakan merusak, meneror, apalagi menghilangkan nyawa orang, apalagi dengan cara mengorbankan dirinya sendiri adalah tindakan bodoh yang tidak perlu dilakukan. Apa pun alasannya.

Meski demikian, perlu kita bangun bersama narasi kontra ektremisme dengan memaparkan narasi cinta yang menyejukkan jiwa, mengingat begitu mudahnya akses internet dan begitu banyaknya narasi kebencian terpapar di media sosial yang bisa memengaruhi pola pikir dan sikap generasi muda.

Merujuk pada indikator Schmid tentang radikalisme dan ekstremisme keagamaan (Schmid, 2004), salah satu hal  yang perlu diwaspadai adalah adanya gerakan dari suatu kelompok yang memiliki kecenderungan untuk menempatkan diri mereka di luar arus utama atau menolak  tatanan dunia, politik dan sosial.

Melalui portal media online dan sosial media, gerakan ini cukup masif dan sistematis untuk menggiring opini publik agar mengikuti cara berpikir dan keyakinan mereka. Penolakan yang dilakukan juga termasuk terhadap media infrormasi arus utama.

Menolak dan memvonis media arus utama sebagai media sekuler yang dianggap banyak menzalimi umat Islam tidak hanya bertujuan agar khalayak antipati terhadap media mainstream. Akan  tetapi lebih dari itu, tujuan utamanya justru agar masyarakat lebih tertarik untuk mengakses portal berita yang mereka kelola.

Sebagai pengguna media sosial dan sebagai seorang pekerja migran yang hanya bisa mengakses berita melalui media online, saya pernah mengalami sendiri hal itu. Bertemu dengan orang-orang ‘agamis’ dengan cara pandang hitam-putih yang terus mencoba menggiring opini melalui dunia maya.

Dalam konteks ini, langkah pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memblokir situs media online yang dianggap mengandung konten negatif karena dinilai menyebarkan berita bohong (hoax) serta isu SARA, bisa dibilang tepat.

Meski di sisi lain, langkah tersebut justru bisa saja malah menimbulkan kebencian dan dendam, sehingga semakin memantapkan  keyakinan  untuk ‘berjihad’ melawan kezaliman yang mereka definisikan sendiri bersama kelompoknya.

Oleh karena itu, menanggulangi ekstremisme, radikalisme, dan terorisme tidak cukup hanya dengan langkah politik yang dilakukan pemerintah. Seluruh elemen masyarakat  juga harus merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk membangun kontra narasi ekstremisme agar kedamaian dan ketenteraman hidup berbangsa dan bernegara bisa terwujud.

Pun demikian dengan aparat pemerintah. Hendaknya bersikap arif dan bijaksana apabila menyikapi persoalan sensitif yang bisa memicu keresahan publik. Statemen pejabat pemerintah yang tidak tepat atas sebuah kejadian, sangat mungkin akan dapat menimbulkan keresahan apabila sudah terekspose dan ‘digoreng’ sedemikian rupa oleh media.

Setelah melakukan penelitian, Direktur Eksekutif The Wahid Foundation Yenny Wahid pernah menerangkan bahwa faktor kemiskinan, tingkat pendidikan, dan tempat tinggal bukanlah faktor-faktor yang berhubungan langsung dan menyebabkan seseorang untuk berperilaku ekstrem dan radikal.

Selain faktor teraleniasi dan pemahaman tentang jihad yang keliru, salah satu faktor penyebab seseorang  lebih mudah teradikalisasi adalah karena banyak mengonsumsi pesan-pesan kebencian.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa faktor keterpengaruhan seseorang atas konten-konten narasi ekstemisme yang terpapar di media online dan media sosial terletak pada hati.

Membangun kontra narasi ekstemisme tidak perlu dilakukan dengan cara berdebat di media yang sama karena justru akan berpotensi semakin mempertajam perbedaan yang bisa memicu perselisihan  fisik secara nyata.

Dimulai dari lingkup keluarga, mengisi hati anak-anak dan generasi muda dengan cinta merupakan cara ampuh untuk membentengi penerus bangsa dari pengaruh ekstremisme dan radikalisme berbasis agama.

Bagi para ulama, menyampaikan ajaran Islam yang sebenar-benarnya merupakan keniscayaan yang tidak hanya akan membawa kedamaian umat di dunia, tetapi juga sebuah kewajiban yang nanti akan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya.

from MUSLIM SEJATI https://ift.tt/2EBLgFc
via pakarseo

Begini Proses Psikologis Menjadi Radikal dan Cara Penanggulangannya

Dalam ranah Psikologi terdapat sebuah diskusi mendalam tentang term radikalisme dan terorisme. Pertanyaan mendasarnya, apakah keduanya memiliki makna yang sama ataukah keduanya memiliki makna yang berbeda namun saling berkaitan?

Terorisme jika ditinjau dari sudut pandang psikologi, bukanlah sebuah sindrom psikologis yang menimpa seseorang sehingga ia memiliki kecendrungan untuk merusak dan bertindak di luar kontrolnya. Lebih tepatnya, terorisme adalah sebuah alat berbentuk tindakan kekerasan (tool/instrumental violence) yang digunakan kelompok radikal tertentu untuk mencapai tujuannya dan bukan sebuah tidakan ekspresif yang dipicu karena adanya gangguan psikologis yang diderita oleh pelakunya.

Mereka para pelaku terorisme bukanlah orang-orang yang mengalami gangguan psikologis namun mereka adalah orang-orang normal yang sengaja melakukan tindakan terorisme sebagai puncak dari ideologi radikal yang bertranformasi dalam diri mereka.

Jadi sederhanya, terorisme dapat dikatakan sebagai the culmination of a radicalization process (puncak dari proses radikalisasi) meskipun perlu digarisbawahi bahwa dalam proses radikalisasi banyak orang yang menjadi radikal namun sedikit yang terlibat dalam terorisme. Beberapa justru menghindar dari kelompok terorisme namun tetap memlihara pandangan radikalnya di masyarakat.

Hamdi Muluk, seorang praktisi ahli BNPT di bidang radikalisme menyebutkan bahwa ada sebuah penelitian yang menganalisis 126 definisi terorisme guna menemukan kata kunci dari definisi terorisme.

Penelitian ini dilakukan oleh Alex Schmid dan Albert Jongman (Maskaliunate, 2002) dan berhasil mendapatkan tujuh kata kunci dengan prosentase tertinggi dari berbagai macam definisi terorisme yaitu kekerasan atau kekuatan (83,5%); politik (65%); ketakutan dan teror (51%); ancaman (47%); efek psikologi serta reaksi antisipatif (41,5%); diferensiasi target korban (37,5%); bertujuan, terencana, sistematik dan aksi yang terorganisasi (32%).

Selanjutnya Hamdi Muluk (2016) juga menyampaikan beberapa penelitian psikologis terkait terorisme yang menyatakan diantaranya, 1) terorisme merupakan fenomena kelompok; 2) Tidak ditemukan ciri tunggal kepribadian teroris dan profilnya; 3) teroris tidak memiliki gangguan kepribadian psikopatologis.

Jika meninjau definisi secara umum, Global Terrorism Database memberikan sebuah definisi cukup jelas. Menurutnya terorisme adalah tindakan ilegal (kekerasan) yang dilakukan demi mencapai tujuan politik, ekonomi, agama atau sosial melalui jalan menyebarkan ketakutan, pemaksaan atau intimidasi.

Definisi ini semakin menguatkan argumentasi dalam perspektif psikologis sebelumnya yang menyatakan bahwasanya terorisme ini adalah alat (tool) yang memang digunakan demi mencapai tujuan tertentu yang memang diinginkan oleh kelompok yang bersangkutan (kelompok radikal), baik itu mengusung tujuan politik, ekonomi, agama maupun sosial.

Perjalanan Psikologis Menjadi Teroris

Dalam hasil risetnya, Hamdi Muluk memaparkan bahwasanya secara psikologis radikalisasi itu memiliki beberapa fase yaitu, 1) pre-radikalisasi; 2) identifikasi; 3) indoktrinasi; 4) aksi. Beberapa fase tersebut secara lebih spesifik dijelaskan oleh Fathalli Magaddam—seorang ahli psikologi di Amerika yang memang mengkaji kelompok-kelompok ekstrimis dari sisi psikologis—dalam teorinya “staircase to terrorism”.

Dalam teorinya tersebut, Fathalli mengilustrasikan proses psikologis dimana seorang awamakan melalui beberapa step atau tingkatan anak tangga hingga bisa bergabung dengan sebuah kelompok berideologi radikal dan akhirnya menjadi seorang ideolog yang bertugas melakukan indroktinasi dan bahkan menjadi pelaku dalam setiap tindakan terorisme.

Perlu diingat bahwa dalam teori ini, semakin tinggi anak tangga yang dinaiki maka akan semakin tinggi pula tingkat agresifitas dan peluang mereka melakukan tindakan terorisme.

Sebelum memasuki anak tangga pertama, seseorang dianggap sedang berada posisi lantai dasar (ground floor) dimana pada posisi ini terdiri dari orang-orang yang memiliki perasaan bersalah, frustasi dan malu. Beberapa dari mereka mencoba naik ke lantai pertama untuk menemukan solusinya dan berjuang melawan perlakuan tidak adil.

Pada tingkatan ini mereka akan mengalami apa yang dinamakan presenting ideology (pengenalan ideologi) dimana mereka akan mulai diperkenalkan dengan berbagai ideologi dari berbagai kelompok yang menawarkan solusi terhadap apa yang mereka alami dan rasakan sebelumnya.

Mereka dapat bergerak lebih tinggi ke lantai dua karena berhasilnya agresi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok ideologis dalam meyakinkan mereka. Setelah mereka terekrut dalam kelompok ideologis tertentu, maka saat itu juga mereka telah masuk dalam tahap cultivation stage (penanaman ideologi) dan dari sinilah akan terbentuk apa yang disebut dengan us-versus-them thinking atau mulai memetakan antara pemikiran kelompoknya dengan pemikiran kelompok lain sehingga tentu akan muncul sikap fanatisme golongan.

Di lantai ketiga, mereka yang telah terlibat dalam sebuah organisasi terorisme dan telah tercuci otaknya dengan ideologi radikal, tentunya mereka akan mentolerir segala bentuk tindakan kekerasan.

Mereka juga dapat dikatakan sebagai bagian dari sebuah jaringan rahasia yang mengklaim ingin mengubah tatanan dunia seperti apa yang dikehendakinya akibat rasa ketidakpuasan mereka. Selanjutnya memasuki lantai ke empat, Fathalli mengatakan bahwa mereka yang telah naik pada level ini hanya sedikit memiliki kesempatan untuk keluar hidup-hidup. Mereka yang telah berada pada tingkatan ini tentunya telah mengetahui banyak rahasia mengenai jaringan dan dunia terorisme.

Mereka juga tentunya telah dibebankan dengan program-program pasti yang akan mereka jalankan untuk memerangi musuh. Sehingga akan dibentuk kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang guna mengoptimalkan kinerja mereka dengan perannya masing-masing. Pembagian kelompok kecil ini merupakan upaya untuk menjaga bocornya informasi, karena apabila satu kelompok terbongkar dan tertangkap, maka sebagian besar struktur dan agenda organisasi lainnya masih tetap aman dan tidak terungkap.

Fathalli juga menyebutkan bahwa pada setiap satuan kelompok kecil ini umumnya terdapat seorang pemimpin yang kharismatik dan perhatian—yang berasal dari lantai ke enam dan memang diutus untuk berperan dalam memberi indoktrinasi dan tidak berperan dalam kawasan aksi—terhadap segenap anggota kelompoknya yang telah berada dalam tingkatan ini.

Dengan begitu proses isolasi dan indoktrinasi akan tetap berlanjut sehingga mereka akan semakin yakin bahwa apa yang akan dan sedang mereka lakukan adalah hal yang benar dan akan mendapatkan balasan yang mulia serta tentunya juga pandangan kategoris mereka tentang us-versus-them thinking akan semakin tertanam dalam pikiran mereka.

Pada tingkatan terakhir yakni pada lantai ke enam, secara psikologis setiap individu yang merupakan bagian dari kelompok terorisme telah dipersiapkan dan dimotivasi untuk melakukan tindakan terorisme dan mengesampingkan hambatan yang akan menghambat mekanisme kerja mereka. Termasuk di dalamnya rasa belas kasih terhadap warga sipil, jika memang warga sipil tersebut mengganggu dan berusaha menghambat mekanisme kinerja mereka.

Maka tidak heran dalam setiap kasus terorisme yang terjadi kebanyakan warga sipil selalu menjadi korban dan bahkan memang sasaran utama kelompok terorisme. Hal ini bisa kita lihat pada tragedi WTC (11 November 2001) maupun tragedi bom Bali 1 (2002) dan Bom Bali 2 (2005). Dalam benak mereka telah ditanamkan pemahaman bahwa warga sipil hanya akan dianggap sekutu apabila mendukung organisasi tersebut.

Tidak heran bila rasa belas kasih begitu termarjinalkan dalam diri seorang teroris. Menurut Fathalli hal itu wajar jika kita melihat mekanisme dan alat-alat yang digunakan teroris dalam menjalankan aksinya.

Umumnya, organisasi teroris menggunakan senjata-senjata maupun strategi-strategi yang akan menyebabkan kematian seketika bagi pelaku—apabila strategi yang digunakan adalah suicide bomb—maupun target sasarannya.

Hal ini tentunya menyebabkan mereka tidak dapat melihat ekspresi ketakutan, wajah penuh pengharapan, serta ungkapan permohonan belas kasih para korban agar tetap dibiarkan hidup, yang tentunya bukan tidak mungkin akan meluluhkan kerasnya hati mereka sehingga mengurungkan niatnya.

Rasa belas kasih—menurut Fathalli—sejatinya merupakan hal yang fitroh dalam diri manusia sebagai binatang (hayawan al-natiq). Serigala yang memiliki agresifitas yang tinggi pun akan mengasihani dan meninggalkan lawannya apabila lawannya sudah tak mampu bangkit dan menderita luka yang parah serta tampak mengaku kalah.

Bentuk dan Adaptasi Kelompok Teroris

Keterkaitan antara jaringan kelompok-kelompok Islam radikal dengan kelompok terorisme di Indonesia menjadi sebuah problematika serius yang terus berkelanjutan dan sepertinya selalu beregenerasi tiada henti. International Crisis Group melaporkan bahwa anggota dari berbagai kelompok-kelompok ormas Islam di Indonesia terlibat dalam sel-sel aktif teroris.

Adapun secara struktural, kelompok teroris yang mengoperasikan aksi teror bukanlah kelompok yang terpisah atau terlepas dari kelompok inti dan berkembang menjadi sangat radikal dan bersifat sentralistis. Perkembangan penelitian terkait masalah terorisme menemukan bahwa terjadi pergeseran secara struktural dalam internal organisasi terorisme.

Pergeseran dari sentralisasi menjadi desentralisasi atau sederhananya dari konsep hirarki menjadi konsep jejaring (network).  Bentuk jejaring inilah yang dianggap oleh para ahli sebagai bentuk ataupun konsep struktural paling mutakhir dalam perkembangan organisasi terorisme.

Konsep jejaring dalam struktural organisasi terorisme menyebabkan setiap jaringan berdiri secara otonom. Namun hal tersebut nampaknya tidak membuat organisasi terorisme goyah dan terpecah. Dalam sebuah studi dikatakan bahwa organisasi terorisme membangun ikatan sosial yang kuat (strong social societies) di antara para anggotanya.

Di Indonesia sendiri kelompok teroris bekerja dengan sistem sel. Hal ini menyebabkan peran para pemimpin tidak lagi menjadi sentral. Kunci dari kekuatan dan kelemahan konsep jejaring ini ada pada aktor penghubung yang terikat atas dasar relational trust.

Jadi apabila aktor penghubung ini gagal melaksanakan tugasnya dengan baik, tentunya ini akan berimplikasi pada kelemahan koordinasi antar sel kelompok. Namun tetap saja dengan adanya konsep jejaring ini kelompok terorisme akan sulit untuk dibongkar dan dihancurkan.

Beberapa Pendekatan Counter Radikalisme dan Terorisme

Melihat bentuk dan proses adaptasi yang dilakukan oleh kelompok terorisme dalam beberapa kurun waktu terakhir, ada beberapa langkah yang dapat ditawarkan sebagai upaya dalam men-counter radikalisme dan terorisme.

Beberapa langkah ini terinspirasi dari apa yang pernah disampaikan oleh Hamdi Muluk saat mengisi kajian ekstrimisme dan psikologi kekerasan dalam acara workshop yang diadakan oleh lembaga Qureta di Yogyakarta. Dalam kesempatan itu beliau justru memberikan soft measures (langkah-langkah lembut) guna menangkal persebaran pemahaman radikal di masyarakat.

Dalam hemat saya, apa yang ditawarkan oleh Hamdi Muluk adalah sebuah bentuk upaya yang secara psikologis dapat dikatakan sangat fundamental. Beliau nampak ingin membangun kembali dan mempertahankan moderatisme serta prasangka baik yang telah terbangun di tengah-tengah masyarakat.

Adapun dalam rumusan soft measures yang ditawarkan, terdapat tiga poin penting yang digunakan untuk men-counter radikalisme dan terorisme.

Poin pertama ialah melalui respons pendidikan. Dalam hal ini ialah mengubah atau mentransformasi pola pendidikan yang biasanya sangat dogmatis—yang menyebabkan adanya stagnasi pemikiran dan tentunya hal ini sangat mungkin menjadi sebab lahirnya pemikiran us-versus-them thinking atau meyakini kebenaran sepihak—dan menggantinya dengan pola pendidikan yang kritis, terbuka, pluralis dan toleran.

Saat ini kita bisa melihat banyaknya lembaga-lembaga yang bergerak di bidang sosial keagamaan seperti misalnya Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, Convey, Peace Generation (Peacegen), Ambon Reconciliation and Mediation Centre (ARMC) dan lainnya yang mulai gencar mengadakan kegiatan-kegiatan yang bertemakan interfaith baik dalam konsep workshop maupun youth camp. Tentunya dengan adanya kegiatan-kegaiatan tersebut—yang  biasanya difokuskan bagi pemuda—diharapkan akan lahir generasi-generasi penerus bangsa yang lepas dari ideologi konservatif, mampu menjadi agent of change dalam masyarakat, dan mampu menggalakkan pentingnya sikap toleran dan keterbukaan demi menegakkan perdamaian di bumi yang plural ini.

Dari sini dapat dilihat adanya pergeseran metodologi pendidikan yang biasanya otoritatif menjadi partisipatif. Namun tentunya peran pembimbing (guru ataupun mentor) tetaplah sangat sentral dalam membimbing dan mengarahkan siswanya agar dapat merasakan interaksi langsung—baik dalam bentuk dialog maupun share to care—dengan orang lain yang berbeda dengan mereka baik dari sisi agama, budaya, suku dan lainnya.

Dengan begitu, sense of peace mereka akan terangsang dan kemungkinan mereka terekrut oleh kelompok-kelompok radikal menjadi semakin kecil.

Poin yang kedua ialah melalui respons ideologi. Kita sering mendengar sebuah kutipan perkataan bijak yang memiliki redaksi seperti ini, “seseorang itu seperti apa yang dia baca.”

Kutipan tersebut dapat dimaknai bahwa cara berpikir atau ideologi seseorang itu berdasarkan informasi yang ia dapatkan. Jadi, buku bacaan ataupun sumber informasi yang dimiliki seseorang sangat mempengaruhi epistemologi berpikirnya nantinya.

Salah satu upaya konkret yang dapat dilakukan untuk mencegah masuknya ideologi radikalisme dalam diri seseorang adalah dengan memberikannya bacaan-bacaan maupun propaganda-propaganda yang bertajuk pendidikan kewarganegaraan, pemahaman agama yang benar, serta pendidikan moral dan perdamaian.

Secara langsung bacaan-bacaan tersebut akan membentuk pribadi yang memiliki perasaan cinta tanah air, berbudi luhur, toleran dan terbuka, serta paham tentang esensi dari agama yang menekankan pada perbaikan moral serta urgensi perdamaian. Sehingga, upaya ini diharapkan dapat meningkatkan imunitas generasi bangsa dari propaganda-propaganda ideologi radikal ke depannya.

Poin terakhir ialah melalui respons media sosial. Di zaman millenial ini, internet dan media sosial telah menjadi kebutuhan yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat. Secara psikologis mereka yang tidak memiliki gawai akan merasa termarjinalkan karena dianggap tidak mengetahui kabar-kabar viral yang kerap mengguncang dunia maya.

Dalam artikelnya yang berjudul Digital Qur’an And Its Translation, Understanding The New Mushaf & Indonesian Muslims Religious Experience In New Media World, Mohammad Sobirin Sahal mengemukakan sebuah tesis yang menarik untuk direnungkan di mana beliau mengemukakan bahwa di era digital ini (abad 21) telah muncul generasi baru yakni digitally literate muslims generation (generasi muslim yang terpelajar secara digital). Generasi ini didominasi oleh kaula muda yang memiliki semangat keagamaan yang tinggi serta akses dunia digital yang sangat intens.

Adanya generasi digital yang memiliki semangat keagamaan yang tinggi sebagaimana yang dikemukakan oleh Muhammad Sahal justru malah membuka lebar-lebar kesempatan bagi kelompok-kelompok radikal untuk menyebarkan propaganda ideologinya.

Semangat keagamaan yang tinggi tanpa didasari keinginan lelah dalam menuntut ilmu secara langsung kepada ahli agama yang mampu memberikan pengajaran mengenai esensi agama yang sesungguhnya, serta cenderung ingin praktis dan cukup melalui pengajaran via digital tentunya sangat mungkin membuat seseorang tersesat di tengah jalan dan terbujuk oleh propaganda kelompok radikal.

Najib Azka, peneliti sekaligus pakar terorisme UGM menyampaikan dalam presentasinya tentang kampanye ISIS bahwa penggunaan media sosial dan media digital di kalangan anak muda merupakan salah satu indikator yang akan semakin mempermudah mobilisasi kelompok-kelompok radikal dalam melakukan pendekatan dan mengkampanyekan ideologinya.

Dengan melihat hal tersebut, tentu salah satu upaya counter yang dapat dilakukan terhadap propagasi ideologi radikal adalah dengan meningkatkan intensitas dalam mengkampanyekan nilai-nilai perdamaian serta membongkar berbagai logical fallacy(kesalahan logis) dalam ideologi radikal yang justru membawa pada kesalahpahaman dalam beragama, baik melalui melalui media cetak maupun digital.

Maka dari itu para mahasiswa yang notabene dianggap sebagai generasi yang terpelajar tentulah sangat diharapkan mampu memberikan inovasi-inovasi khususnya dalam upaya kampanye via digital guna menunjukkan eksistensinya dan sumbangsihnya sebagai agent of change.

Dalam setiap poin yang disampaikan di atas, tentunya peran elemen pemerintah sangatlah diharapkan dan dibutuhkan guna meningkatkan prosentase keberhasilan. BNPT dan Kepolisian misalnya yang gencar bekerjasama dalam memberikan penyuluhan anti-radikalisme dan terorisme di sekolah-sekolah menengah.

Khusus pada dunia digital ini, peran Kemenkominfo sangatlah penting guna mengawasi dan membersihkan media digital dari website-website yang memiliki konten-konten bermuatan propaganda ideologi radikal. Sehingga secara tidak langsung, upaya tersebut dapat mempersempit ruang mobilisasi kelompok radikal dalam menyebarkan propaganda ideologinya.

from MUSLIM SEJATI https://ift.tt/2CX34su
via pakarseo